This is just a time for one innocent dinner .Nasi goreng
Jalan Sabang yang harganya cuma ceban itu . Aku segera memasuki lift ,berdiri
disamping Beno . Pria itu melirikku sekilas sebelum tersenyum simpul .
“Gampang banget Lex “ , ucapnya . Tampaknya Beno berusaha
menghilangkan kecanggunganku akan ajakan makan malamnya .
“Apanya yang gampang?” .
“Kamu itu gampang banget diajak makan malam ma aku. Masih
cinta ya ma aku ” , kerlingnya . Aku menatapnya sewot . Kalau cuma gara-gara
ini kepalanya jadi sebesar itu , sebaiknya aku batalkan saja acara kami ini .
“Kalau kamu mikir kayak gitu , mending aku langsung pulang
aja Ben . Kamu makan aja sendiri disana!” .
“Ehhh...jangan dong......jangan dibatalin kencan kita ini ,
kapan lagi kita kencan Lex ....” , Beno langsung merajuk sambil meraih tanganku
.
“Aku minta maaf ya kalo kamu marah , tapi aku pengen kita
tetep makan malam ya Lex” , pintanya memelas . Aku menatap matanya , heran .
Tak biasanya Beno bersikap seperti ini .
“Plissss Lex “ , Beno memohon lagi . Aku menghela nafas
kemudian mengangguk , tak sampai hati menolaknya .
Begitu keluar dari lift , kami segera berjalan menghampiri
mobil Beno yang diparkir tak jauh dari pintu lift . Beno membukakan pintu
untukku , setelah itu dia segera masuk ke mobil dan duduk dibelakang kemudi .
Tak lama keudian kami sudah meluncur menuju Jalan Sabang .
“Kamu tahu Lex , aku kangen makan bareng ma kamu di nasgor
Sabang itu . Rasanya udah lamaaaa sekali sejak terkahir kalinya kita makan
bareng disitu “ . Mendengar kata-katanya , aku menatap kearah Beno dan
memandanginya dengan penuh selidik .
“Kamu gak abis minum kan Ben?” , tanyaku spontan .
“Gak Lex , emang kenapa?” , Beno balas menatapku dengan
wajah heran . Aku menggeleng dan kembali memandangi jalanan didepan sana . Mendengarkan
celotehan Beno dan berfikir bagaimana Pak Dokter yang satu itu bisa menjadi
se-cerewet ini . Tak lama kami pun sampai di nasi goreng Jalan Sabang . Beno
kembali membukakan pintu mobilnya untukku . Bukannya aku tak suka dengan semua
keanehannya malam ini , hanya saja mungkin aku sudah terbiasa dengan sikap
dinginnya Beno dan aku belum terbiasa bila dia menjadi ramah .
“Kamu pesenin dulu ya Lex!Aku mau nyari tempat parkir dulu”
,Beno lalu bergegas memasuki mobil kembali , tetapi tiba-tiba dibukanya kaca
mobil didekatku .
“Aku cinta kamu selalu Lex!” , ucapnya sambil tersenyum ,
kemudian melajukan mobilnya .
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar kata-katanya
barusan , sambil berjalan ke warung nasgor . Memesan dua porsi nasi goreng dan
segera duduk di meja terdekat sambil menunggu Beno sambil memandangi jalanan
didepan . Sepertinya sudah lima menit yang lalu Beno mencari tempat parkir dan
dia masih belum saja kembali .
“Awas aja kalo dia ngerjain aku, ninggalin aku disini!” ,
omelku bertepatan dengan dering ponsel didalam tasku . Wina .
“Kenapa Win? Riza udah dateng kan?”, sapaku .
“Lex....Lex....lu yang sabar yaaaa Lex....” . Aku mengernyit
heran mendengar suaranya . Sepertinya Wina sedang menangis saat meneleponku .
“Lu kenapa Win?” .
“Beno Lex.....Beno.....” .
“Iya kenapa Beno?” .
“Beno meninggal Lex , kecelakaan mobil jam setengah sebelas
tadi waktu dia pulang dari rumah sakit......” , selesai mengatakan itu tangis Wina meledak .
“Lu jangan becandain gue deh Win , orang gue barusan aja ma
Beno kok!Kita ini mau makan bareng “ .
“Gue gak becanda Alex,masak gue becandain Beno udah
meninggal” . Mendengar kata-kata Wina , aku segera tersadar dan berlari ke
pinggir jalan . Mendapati jalanan lengang dan Beno bisa memarkirkan mobilnya
dimana saja . Tapi mengapa dia pergi mencari tempat parkir yang lain lagi . Aku
menghampiri tukang parkir yang biasa berjaga disana .
“Pak , maaf , tadi liat temen saya yang pake mobil item?” .
“Temen Neng?Bukannya tadi Neng kesini jalan kaki?”.
“Saya naik mobil Pak , yakin deh, mana kuat saya jalan kaki”
, ucapku setengah memaksa .
“Saya yakin banget kok Neng , Neng jalan kaki kesini ,
karena saya tadi sempat mikir , kok Neng gak takut sih jalan kaki sendiri
malem-malem “ .
Mendengar kata-kata tukang parkir itu membuat aku tersadar
akan semua hal yang Beno lakukan malam ini . Mengapa sikapnya sedari tadi
begitu aneh .
“Win.....tolong minta Riza jemput aku sekarang ya , di
nasgor Sabang “ , pintaku lirih .
“Iya Lex, Riza kesana sekarang . Tunggu Riza ya Lex
....jangan kemana-mana” , pinta Wina . Aku mengangguk lalu menutup teleponku .
Menatap kearah terakhir kali aku melihat Beno . Saat dia menurunkanku tadi dan
mengatakan cinta padaku . Tak terasa airmataku menetes .
“Aku juga cinta kamu Ben.......” , ucapku lirih . Semua hal
disekitarku lalu memudar dan menjadi gelap secara bersamaan . Rasanya , aku
ingin tidur saja . Selamat malam Beno.....
#Halloweenika
Cerita diambil dari scenes terakhir Divortiare halaman 320